

Panduan kewajiban kalibrasi dosimeter perorangan elektronik (EPD/pendose) minimal setahun sekali untuk menjamin keabsahan laporan kepatuhan ke BAPETEN.

Dosimeter Perorangan Elektronik (Electronic Personal Dosimeter / EPD atau sering disebut pendose) merupakan instrumen pemantau radiasi aktif yang memberikan informasi dosis akumulasi dan laju dosis secara langsung (real-time).
Meskipun canggih, komponen pemroses sinyal, detektor semikonduktor, atau kamar ionisasi miniatur di dalam dosimeter elektronik mengalami penurunan akurasi seiring waktu penggunaan. Bila instrumen dipakai tanpa kalibrasi berkala:
1. Penyimpangan Nilai Pembacaan: Layar dosimeter dapat menampilkan angka yang lebih rendah dari paparan radiasi nyata di lapangan, memicu pemaparan berlebih tanpa disadari operator.
2. Kegagalan Fungsi Alarm Warning: Alarm suara, lampu kilat, atau getaran tidak terpicu pada ambang batas laju dosis berbahaya.
3. Penolakan Audit Perizinan BAPETEN: Laporan pemantauan dosis perorangan dari alat yang kadaluarsa sertifikat kalibrasinya dinyatakan tidak sah secara hukum.

Sesuai ketentuan Perka BAPETEN No. 4/2013 tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir (Pasal 27), setiap fasilitas pelayanan kesehatan maupun industri wajib memastikan:
Sertifikat kalibrasi yang diterbitkan menjadi bukti legal kepatuhan metrologi keselamatan radiasi fasyankes.
Proses kalibrasi dosimeter perorangan elektronik di laboratorium teruji menggunakan radiasi acuan standar (seperti sumber Gamma Cesium-137 atau Co-60) untuk mengevaluasi beberapa parameter teknis utama:
Faktor kalibrasi menentukan rasio perbandingan antara laju dosis acuan laboratorium dan nilai yang ditampilkan oleh dosimeter. Toleransi faktor kalibrasi yang diizinkan BAPETEN berada pada rentang 0.90 ≤q Nk ≤q 1.10 (penyimpangan maksimum ± 10%).
Uji linearitas memastikan dosimeter merespon secara proporsional dari laju dosis rendah (tingkat latar belakang) hingga laju dosis tinggi saat tindakan radiologi intervensional berlangsung.
Laboratorium menguji keandalan sistem peringatan dini saat paparan melampaui batas 20 µSv/jam atau akumulasi dosis harian yang ditetapkan.
| Parameter Pembanding | TLD Badge (Pasif) | Dosimeter Elektronik / EPD (Aktif) |
|---|---|---|
| Metode Pembacaan | Pasif (harus diolah di laboratorium) | Aktif (Real-time di layar instrumen) |
| Frekuensi Evaluasi Dosis | Berkala tiap 3 bulan sekali | Dibaca langsung tiap selesai tindakan |
| Fitur Alarm Warning | Tidak memiliki alarm | Memiliki alarm suara/getar laju dosis |
| Fungsi Proteksi Utama | Rekaman dosis legal kumulatif | Pencegahan pemaparan akut mendadak |
| Kewajiban Kalibrasi | Kalibrasi sistem pembaca laboratorium | Kalibrasi unit fisik instrumen 1 tahun sekali |
Kedua instrumen ini saling melengkapi. TLD badge memenuhi kewajiban rekaman akumulasi dosis resmi, sedangkan dosimeter elektronik menjadi alat proteksi langsung bagi staf di area paparan tinggi seperti Cath Lab.
Guna menjaga kelangsungan izin operasional dan akurasi pemantauan dosis pekerja, Fasyankes dapat mengikuti alur kalibrasi berkala:
1. Pemeriksaan Sertifikat Kalibrasi Terakhir: Catat tanggal kadaluarsa sertifikat EPD/pendose.
2. Pengiriman Fisik Unit ke Laboratorium Teruji: Pastikan baterai dan kondisi fisik unit dalam keadaan baik.
3. Penerbitan Sertifikat dan Label Terkalibrasi: Sertifikat melampirkan nilai faktor kalibrasi Nk dan ketidakpastian pengukuran.
Guna mendukung keabsahan data pemantauan dosis pekerja di hadapan auditor BAPETEN dan KARS, seluruh dosimeter perorangan aktif (EPD/pendose) wajib dikalibrasi berkala minimal satu kali per tahun di Laboratorium Dosimetri Standar Sekunder (SSDL) yang ditunjuk resmi. Sertifikat kalibrasi yang valid memastikan respon energi detektor tetap akurat dan fungsi alarm laju dosis bekerja prima saat terjadi lonjakan paparan radiasi.