

Panduan investigasi dosis berlebih TLD BARC, klarifikasi kronologi paparan oleh PPR, dan pelaporan investigasi ke BAPETEN per PP 45/2023.
TL;DR PPR Menginvestigasi Dosis Berlebih TLD BARC Di Atas 5 mSv Per Triwulan Sebelum Pelaporan Resmi Ke BAPETEN.

Pencegahan paparan radiasi berlebih (overexposure) merupakan prioritas utama dalam keselamatan radiasi pengion. Ketika laporan hasil evaluasi dosis perorangan triwulanan dari Laboratorium Dosimetri Teruji menunjukkan bahwa seorang pekerja radiasi menerima paparan melebih tingkat investigasi, fasilitas kesehatan tidak boleh mengabaikan temuan tersebut.
Berdasarkan Perka BAPETEN No. 11 Tahun 2015 dan PP No. 45 Tahun 2023, setiap kejadian dosis berlebih wajib ditangani melalui investigasi terstruktur untuk menentukan apakah paparan tersebut benar-benar diterima oleh tubuh pekerja atau akibat kecelakaan penempatan badge dosimeter.

Penanganan kejadian dosis berlebih dilaksanakan melalui tiga tahapan verifikasi terpadu:
Sebelum menerbitkan laporan dosis berlebih resmi, laboratorium penguji melakukan verifikasi ulang terhadap bentuk glow curve TLD BARC yang bersangkutan. Langkah ini memastikan bahwa sinyal tinggi tersebut murni berasal dari radiasi pengion, bukan akibat triboluminescence (cahaya gesekan), kontaminasi kimia, atau gangguan elektronik pada PMT reader.
Setelah laporan resmi terkonfirmasi, Petugas Proteksi Radiasi (PPR) fasyankes memanggil pekerja radiasi terkait untuk melakukan wawancara kronologis:
Pekerja yang terkonfirmasi menerima paparan melebihi NBD tahunan (>20 mSv) wajib menjalani pemeriksaan kesehatan komprehensif, mencakup analisis darah lengkap (chromosomal aberration assay jika diperlukan) oleh dokter spesialis okupasinya.
| Tingkat Paparan Dosis | Kategori Evaluasi | Tindakan Wajib PPR & Fasyankes |
|---|---|---|
| < 5,0 mSv / triwulan | Dosis Normal Operasional | Dosis dicatat dalam rekam medis pekerja |
| > 5,0 mSv / triwulan | Ambang Investigasi Internal | PPR melakukan investigasi kronologi kerja |
| > 20,0 mSv / tahun | Melebihi NBD Tahunan | Investigasi penuh, pemeriksaan medis, lapor BAPETEN |
Berdasarkan Pasal 20 dan 21 PP No. 45 Tahun 2023, Berita Acara Hasil Investigasi paparan berlebih yang disusun oleh PPR wajib disampaikan secara tertulis ke BAPETEN.
Apabila hasil investigasi membuktikan bahwa TLD BARC terpapar akibat kelalaian (tertinggal di ruang radiologi tanpa dipakai pekerja), PPR menyertakan bukti pendukung (seperti rekaman CCTV atau data log mesin). BAPETEN dapat menyetujui koreksi rekam dosis perorangan pekerja dalam sistem informasi BALIS, sehingga catatan dosis kumulasi pekerja dikembalikan ke estimasi dosis kerja nyata.
Jika investigasi PPR membuktikan bahwa pekerja radiasi benar-benar menerima paparan radiasi akut berlebih (>50 mSv dalam satu insiden), evaluasi kesehatan biologis wajib dilaksanakan.
1. Analisis Aberasi Kromosom (Dicentric Chromosome Assay / DCA): Sampel darah perifer pekerja diambil dan dikultur di laboratorium biologis radiasi untuk menghitung frekuensi kromosom dikentrik pada limfosit. DCA merupakan gold standard dosimetri biologis untuk mengestimasi dosis tubuh total akut pada rentang 0,1–5 Gy.
2. Pemeriksaan Hematologi Rutin: Pemantauan jumlah limfosit absolut (Absolute Lymphocyte Count / ALC) setiap 12 jam pasca-insiden untuk mendeteksi sindrom radiasi akut (Acute Radiation Syndrome).
3. Penetapan Status Kelaikan Kerja: Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi merumuskan kelaikan kerja pekerja radiasi, apakah diperbolehkan kembali bertugas dengan pembatasan dosis atau dipindahtugaskan ke area non-radiasi.
Jika pembacaan TLD BARC terkonfirmasi melebihi NBD tahunan (>20 mSv):
1. Notifikasi 24 Jam: PPR menyampaikan notifikasi awal ke BAPETEN via portal BALIS dalam kurun 1 × 24 jam.
2. Penyampaian Berita Acara Resmi: Laporan investigasi kronologis lengkap beserta dokumen medis diserahkan sesuai tenggat waktu PP 45/2023.
1. Konsultasi dengan Dokter Okupasi: Pekerja yang menerima paparan berlebih diuji fungsi organ tubuh dan mendapatkan konseling kesehatan okupasi untuk memulihkan kondisi psikologis kerja.
2. Penyesuaian Kuota Dosis Tahunan: Jika investigasi membuktikan paparan berlebih murni diterima pekerja, pekerja dipindahkan sementara ke area tugas non-radiasi hingga sisa kuota NBD tahunan kembali aman.
Jika investigasi PPR membuktikan bahwa pekerja radiasi benar-benar menerima paparan radiasi akut berlebih (>50 mSv dalam satu insiden), evaluasi kesehatan biologis wajib dilaksanakan.
1. Analisis Aberasi Kromosom (Dicentric Chromosome Assay / DCA): Sampel darah perifer pekerja diambil dan dikultur di laboratorium biologis radiasi untuk menghitung frekuensi kromosom dikentrik pada limfosit. DCA merupakan gold standard dosimetri biologis untuk mengestimasi dosis tubuh total akut pada rentang 0,1–5 Gy.
2. Pemeriksaan Hematologi Rutin: Pemantauan jumlah limfosit absolut (Absolute Lymphocyte Count / ALC) setiap 12 jam pasca-insiden untuk mendeteksi sindrom radiasi akut (Acute Radiation Syndrome).
3. Penetapan Status Kelaikan Kerja: Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi merumuskan kelaikan kerja pekerja radiasi, apakah diperbolehkan kembali bertugas dengan pembatasan dosis atau dipindahtugaskan ke area non-radiasi.
1. Kelengkapan Dokumen Berita Acara: Laporan investigasi paparan berlebih memuat identitas pekerja, rekam dosis Hp(10), grafik glow curve, kronologi insiden, dan analisis penyebab teknis oleh PPR.
2. Evaluasi Klinis Kedokteran Okupasi: Dokter spesialis okupasi menyusun rekomendasi kesehatan dan kelaikan kerja pekerja radiasi.
3. Integrasi Sistem BALIS: Setelah disetujui BAPETEN, data dosis resmi disesuaikan pada portal BALIS Online.