

Panduan analisis bentuk glow curve TLD BARC CaSO4:Dy, pemisahan puncak dosimetrik utama 220-240C, dan eliminasi sinyal spurious sesuai BAPETEN.
TL;DR Fisikawan Medik Menganalisis Glow Curve TLD BARC Pada Suhu 220-240 Derajat Celsius Untuk Menjamin Akurasi Dosis.

Dosimeter termoluminisensi TLD BARC menggunakan bahan detektor Kalsium Sulfat terdoping Disprosium (CaSO₄:Dy). Ketika detektor ini menerima paparan radiasi pengion di area kerja radiologi, energi radiasi diserap oleh kisi kristal dan menyebabkan elektron berpindah ke pita konduksi lalu terperangkap pada tingkat energi metastabil (electron traps).
Proses pembacaan dosis dilakukan di laboratorium dosimetri dengan memanaskan keping detektor secara bertahap di dalam TLD reader. Energi pemanasan memberikan dorongan termal kepada elektron yang terperangkap sehingga elektron kembali ke pita valensi sembari memancarkan foton cahaya tampak. Foton yang dipancarkan ditangkap oleh tabung pengganda foton (Photomultiplier Tube / PMT) dan dikonversi menjadi sinyal arus listrik.
Grafik yang menggambarkan hubungan antara intensitas emisi cahaya foton (sumbu vertikal) terhadap waktu atau suhu pemanasan (sumbu horizontal) disebut sebagai Glow Curve (kurva pendar). Bentuk visual dan profil grafis glow curve merupakan indikator utama keabsahan data dosis yang direkam oleh detektor TLD BARC.

Karakteristik Puncak Pendaran (Glow Peaks) CaSO4:Dy
Struktur kisi kristal CaSO₄:Dy pada TLD BARC memiliki beberapa kedalaman perangkap energi yang menghasilkan puncak pendaran (glow peaks) pada rentang suhu pemanasan yang berbeda:
Puncak pendaran pada area suhu 110°C hingga 140°C berasal dari perangkap energi dangkal. Sinyal radiasi pada puncak ini tidak stabil karena mengalami peluruhan spontan (fading) dengan laju cepat pada suhu kamar dalam beberapa hari setelah penyinaran. sinyal dari puncak suhu rendah harus diabaikan dan tidak diintegrasikan dalam kalkulasi dosis perorangan.
Puncak pendaran pada rentang suhu 220°C hingga 240°C merupakan puncak dosimetrik utama. Perangkap energi pada rentang ini sangat stabil dengan tingkat peluruhan termal yang rendah selama masa pemakaian tiga bulan. Luas daerah di bawah puncak dosimetrik 220°C–240°C diintegrasikan oleh perangkat lunak TLD reader untuk menghitung nilai dosis ekivalen perorangan Hp(10) untuk radiasi menembus dan Hp(0,07) untuk radiasi dangkal.
Puncak pendaran di atas suhu 300°C terbentuk dari perangkap energi sangat dalam yang membutuhkan pemanasan intensif untuk pengosongan muatan sisa (residual dose).
Analisis bentuk grafis glow curve oleh petugas pembacaan TLD laboratorium dosimetri berfungsi memisahkan sinyal dosis radiasi murni dari berbagai efek distorsi non-radiasi (spurious luminescence):
Metode dekonvolusi kurva (glow curve deconvolution) memantau parameter ketebalan puncak setengah maksimum (Full Width at Half Maximum / FWHM) dan nilai Figure of Merit (FOM). Jika profil glow curve menunjukkan FWHM tidak normal atau FOM melampaui batas toleransi metode laboratorium, sinyal tersebut diklasifikasikan sebagai anomali dan tidak langsung dicatat sebagai paparan radiasi kerja.
Pelaksanaan analisis glow curve di Laboratorium Dosimetri Teruji diikat oleh ketentuan hukum proteksi radiasi yang berlaku di Indonesia:
1. Frekuensi Evaluasi Dosimeter TLD: Berdasarkan Peraturan Kepala BAPETEN No. 4 Tahun 2013 Pasal 34 ayat (2) huruf b, Pemegang Izin wajib mengirimkan dosimeter perorangan jenis TLD badge untuk dievaluasi oleh laboratorium dosimetri terakreditasi sekurang-kurangnya 1 kali dalam 3 bulan.
2. Kualifikasi Personel Evaluasi: Peraturan Kepala BAPETEN No. 11 Tahun 2015 Pasal 8 ayat (2) huruf b menetapkan bahwa pembacaan dan evaluasi dosimeter termoluminisensi wajib dilaksanakan oleh petugas pembacaan TLD yang memiliki kompetensi teknis terverifikasi.
3. Kepatuhan Nilai Batas Dosis (NBD): Evaluasi dosis Hp(10) hasil analisis kurva pendar memverifikasi penerimaan dosis pekerja radiasi agar tidak melampaui NBD efektif sebesar 20 mSv per tahun yang dihitung rata-rata dalam periode 5 tahun berturut-turut sesuai Perka BAPETEN No. 4 Tahun 2013 Pasal 15.
Dekonvolusi glow curve secara komputerisasi (Computerized Glow Curve Deconvolution / CGCD) merupakan metode analisis mutakhir yang memisahkan kurva pendaran kompleks CaSO₄:Dy menjadi komponen-komponen puncak fisika murni.
1. Input Data Mentah: Mengambil array data titik (Tᵢ, Iᵢ) dari pencacahan PMT TLD Reader.
2. Pengurangan Arus Gelap (Dark Current Subtraction): Sinyal latar termal pembawa kartu dikurangkan dari profil kurva.
3. Fitting Kurva Non-Linier: Algoritma Levenberg-Marquardt mengeksekusi fitting non-linier menggunakan fungsi persilangan kinetika orde pertama untuk Puncak 1, Puncak 2, Puncak 3, dan Puncak Dosimetrik Utama.
4. Kalkulasi Figure of Merit (FOM): Kualitas hasil dekonvolusi diuji menggunakan indikator Figure of Merit:
FOM = [ ∑ |Iexp(Tᵢ) − Ifit(Tᵢ)| / ∑ Iexp(Tᵢ) ] × 100%Nilai FOM < 3,5% menunjukkan bahwa pembacaan glow curve bebas dari artefak pengotor dan dosis Hp(10) yang dihasilkan dinyatakan valid secara legal.
Fisikawan medik laboratorium penguji melakukan inspeksi visual dan komputasi terhadap glow curve:
1. Kriteria Kelulusan Kurva: Puncak dosimetrik utama (220–240°C) berbentuk kurva Gauss mulus tanpa lonjakan sinyal (spike).
2. Penanganan Kurva Cacat: Kurva yang mengalami distorsi akibat kebocoran cahaya diisolasi dan dianalisis ulang menggunakan algoritma dekonvolusi CGCD sebelum dosis dimasukkan ke sistem BALIS.
1. Pengeliminasian Efek Sinyal Latar Termal (Blackbody Radiation): Pada suhu pemanasan di atas 280°C, baki pemanas emisi memancarkan radiasi benda hitam murni (blackbody radiation). Perangkat lunak dekonvolusi mengurangkan sinyal pendaran benda hitam ini secara presisi agar tidak terjadi over-estimasi dosis pada Puncak 5 TLD BARC.
2. Kualifikasi Validitas Rekam Medis: Setiap kurva pendaran yang diintegrasikan menjadi besaran dosis Hp(10) dicatat dalam arsip digital berformat terenkripsi untuk memenuhi ketentuan audit kepatuhan regulasi BAPETEN.
Dalam evaluasi dosis perorangan presisi tinggi, laboratorium dosimetri teruji mengimplementasikan algoritma Computerized Glow Curve Deconvolution (CGCD) untuk mengisolasi puncak dosimetrik utama dari gangguan sinyal non-radiasi.
1. Pengurangan Sinyal Benda Hitam (Blackbody Radiation): Pada suhu pemanasan di atas 280°C, baki pemanas emisi memancarkan radiasi termal benda hitam. Perangkat lunak dekonvolusi mengurangkan sinyal latar benda hitam ini secara presisi agar tidak memicu over-estimation dosis pada Puncak 5 CaSO₄:Dy.
2. Evaluasi Indikator Figure of Merit (FOM): Kualitas hasil fitting dekonvolusi diuji menggunakan parameter matematika Figure of Merit (FOM ≤ 3,5%). Nilai FOM yang rendah membuktikan bahwa bentuk glow curve bebas dari artefak gesekan mekanis (triboluminescence) maupun gangguan arus gelap PMT.
Grafik glow curve murni beserta laporan analisis CGCD dari setiap kartu TLD dibekukan dalam format berkas digital terenkripsi. Dokumentasi ini menjadi bukti otentik saat dilakukan verifikasi dan audit keselamatan oleh BAPETEN.